Selasa, 10 Juni 2008

DESAKU yang hilang…

Bagi pemerintah dan Lapindo, daerah yang tenggelam oleh lumpur mungkin hanya dianggap sekedar sebuah lokasi geografis. Tidak ada keterkaitan, tidak ada emosi. Tetapi bagi korban, wilayah yang tenggelam tersebut adalah tempat tinggal, tautan dengan masa lalu, dan hamparan masa depan. Sebuah desa.



DESAKU yang hilang…

Berkesempatan nulis di blog, mbales ngecek blog dan situs kawan2 pendukung korban lapindo yang sudah berkunjung, membawa pengelenaan dunia maya-ku nyasar ke tempat2 yang tidak terduga (bukan ke situs porno lho ya, *iyak*, yo mesti ae, lek mrono soale gak nyasar, hehehe). Salah satunya ketemu situs2 yang memuat lagu2 yang lama gak terdengar.

Jangan Asem misalnya, salah satu grup rock dari Unitomo yang terkenal di Surabaya pertengahan 90-an. Lagu2nya menurutku sangat berbobot, melodi yang ringan, syair yang kental kritik sosial, yang serelevan waktu itu maupun sekarang. Lagu macam ogok-ogok thok, atau reggae garuda, atau jancuk blues, dinyanyikan dengan suara lantang dan logat Surabaya yang sangat medok, tapi akrab di telinga.

Tapi salah satu yang paling aku suka karena nendang, cerdas dan, nggilani bin kemproh (oh ya ma’af, nggilani=menjijikkan, kemproh=jorok) adalah yang judulnya kentut sosial, sangat khas Suroboyoan. Syairnya begini :

”Tahu bedanya pantat kita dengan kepala pejabat?”

”Pantat kita belah tengah, kepala pejabat belah pinggir”

”Tahu persamaan pantat kita dengan kepala pejabat?”

”Pantat kita dan kepala mereka sama-sama isinya, TAEKKK!”

Halah, kok jadi cerita tentang Jangan Asem dan hal yang semua orang sudah tahu. Semua yah nyadar, walau nggak berani ngomong, apalagi nyanyi, selugas grup band Jangan Asem, bahwa dalam ngurusin masalah Lapindo, kepala pejabat kita itu isinya, ya itu tadi, penuh kotoran.

===

Eniwei, maksud postingan ini sebenarnya cerita tentang lagu anak2 yang judulnya DESAKU :

http://www.esnips.com/doc/04749ec3-0892-4542-8e19-4bdd2810c2bb/Desaku

Tiba-tiba aja aku nemu lagu yang dulu menjadi favoritku sewaktu masih sekolah di SMPN 1 Sidoarjo, karena membuat aku yang dari desa di Tanggulangin, jadi merasa punya sedikit kelebihan ketika bergaul sama teman2 sekolah yang rata2 anak kota (pasti ada yg nyeletuk, Sidoarjo kok kota, hehehe).

Merasa lebih karena, lagu tersebut menceritakan betapa bahagianya hidup di desa, yang permai, tempat saudara dan handai tolan hidup, dibanding di kota, yang sumpek dan egois. Tak akan mudah kulupakan, dan berpisah darinya. Bahkan sekalipun, lama setelah nggak tinggal di desa aku pernah tinggal dibelahan lain dari bumi ini, ingatan akan desa seperti yang digambarkan oleh lagu DESAKU itu seringkali menyeruak. Lha asline memang wong ndeso, mau gimana lagi.

Tadi malam, ketika tanpa sengaja ketemu lagi lagu itu, tiba-tiba aku terhenyak, tapi dalam nuansa yang sama sekali berbeda.

Desaku yang tak mudah kulupakan itu, (dengan amat sangat) terpaksa harus kuhapus dari ingatan. Upaya yang sangat berat, mengingat apa penyebabnya, dan bagaimana pihak yang bertanggungjawab soal terhapusnya desaku dari peta di muka bumi ini, melenggang dengan santai, tetap menjalankan jabatan menteri koordinasinya dan mengumpulkan pundi2nya sebagai orang terkaya di negeri ini, melalui bisnisnya yang terus menggurita.

Dan mendengarkan kembali DESAKU mementahkan segala upaya selama hampir 2 tahun ini untuk melupakan memori indah akan desaku, mencoba menerima apa yang terjadi. Keindahan yang tidak mudah dijelaskan kepada orang lain, khususnya yang tidak pernah tinggal di desa. Rasa akrab begitu masuk ke lingkungan desa. Semua orang yang dengan riang menengok dan menyapa kita, sambil tiba-tiba menghentikan kegiatannya, apapun itu, dan seberapa lamapun kita gak pulang. Kapan teko mas?

Tempat-tempat yang spesial, paling tidak bagiku. Pohon mangga yang sama tempat dulu aku pernah nyolong dan diteriakin wak Kaji, pos kamling yang sama tempat dulu pertama belajar nikmati enaknya nongkrong sambil main gitar dengan teman, rumah si Arif, anaknya Pak RW yang kamar depannya jadi saksi perkenalan kami dengan dunia orang dewasa (nonton film ’aneh’ karena gak ada biru-birunya kok disebut BF, ngerokok gudang garam, yang di beberapa negara dikira lagi nyedot canabis, saking baunya, hehehe).

Hal-hal sepele itu, tempat-tempat yang tidak penting itu. Tapi bukankah hal-hal seperti ini yang selalu efektif mengingatkan kita, bahwa toh kita ini manusia biasa juga, seberapapun diri merasa hebat dengan segala pencapaian pribadi. Bahwa ternyata kita sama saja dengan orang2 lain, kawan2 sebaya, yang pernah berbagi kekonyolan2 khas anak muda, dan yang mungkin ketika dewasa, tidak seberuntung kita.

Tapi mereka adalah kawan2ku, saudara2ku, yang membuatku selalu bisa mengaca, dan melihat diri sendiri dengan jujur. Sebuah akar, dimana setinggi apapun pohon itu akan tumbuh, akan bisa dilacak darimana dia tumbuh. Ahli sosiologi mungkin menyebutnya akar budaya kita, tapi yang jelas aku merasa aku adalah bagian dari mereka. Dan tidak ada sedikitpun aku keberatan dengan hal itu, alih-alih aku malah bangga.

Kalau saja masa kecilku dihabiskan di kota, tinggal di perumahan, apalagi apartemen, yang minim interaksi dengan sebaya, mungkin memori akan desa tidak sekuat yang kurasakan sekarang. Dan mungkin aku akan sama dengan sebagian kawan2 korban warga Perumahan Tanggulangin Sejahtera, tidak terlalu memandang penting arti hilangnya sebuah tempat tinggal dan DESAKU, dan ’menyerah’. Sekalipun sebagian dari mereka, beberapa adalah dosen dan cendekia yang tahu benar arti hilangnya hak dan penggantian yang tidak adil.

Dan sekarang, semua itu telah lenyap dari muka bumi, tak berbekas, kecuali hamparan danau lumpur membentang sampai batas cakrawala. Bagaimana anda akan menghitung kerugian akan kehilangan yang benar2 total ini? Kalau hancurnya aset tanah, rumah atau bangunan, atau bahkan pohon2, mungkin masih bisa dihitung. Tetapi bagaimana dengan hilangnya kenangan2, sejarah dan cerita2 orang tua, seberapa anda akan menilainya? Mungkin tak terkira.

Tapi lagu DESAKU sekali lagi menyentakkan kesadaran tadi, sekaligus mengingatkan bahwa apa yang kami lakukan sekarang, untuk ’melawan’ pemerintah dan lapindo, memang berdasarkan pada sesuatu, dan itu berharga. Kalau tidak demi masa lalu, maka kami melakukan ini demi masa depan. Kalau tidak untuk contoh bagi generasi nanti negeri ini, paling tidak aku tidak akan malu dengan anak cucu sendiri.

Aku sesak membayangkan, 10 tahun lagi, ketika anakku, atau 30 tahun lagi, ketika cucuku, menanyakan, dan aku tidak bisa menjawab, tentang hal berikut :

”Yah/Kek, dulu kecilnya dimana?”

Maka aku akan menjawab, ”Oh di Sidoarjo le, di tempat yang sekarang terendam lumpur Lapindo”, sambil menuding ketengah danau lumpur” disana itu, yang kelihatan bekas cungkup masjidnya”

”Yah/Kek,” lanjut mereka, ”kabarnya, tenggelamnya karena ulah perusahaan yang serakah, bekerjasama dengan pemerintah yang korup dan tidak peduli sama rakyatnya, ya?” Aku terpaksa mengangguk, mengiyakan dan takjub akan kelugasan anak2 jaman nanti.

Lalu anak/cucuku mengejar dengan pertanyaan skak mat, ”Lho, kalau rumah dan desa Ayah/Kakek ditenggelamkan, terus apa yang Ayah/Kakek lakukan?”

Dan aku memilih untuk bisa menjawab dengan kepala tegak ketika pertanyaat itu muncul. Maka, paling tidak, apa yang kami lakukan sekarang, akan bisa mempersiapkanku saat pertanyaan seperti itu keluar dari anak/cucuku nanti.

Dan lirik lagu DESAKU terngiang lagi:

...tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai...

...selalu kurindukan...

...desaku yang hilang....lanjutku lirih.

Tidak lagi diiringi kepedihan, tapi dengan dua tangan mengepal erat, dan geraham mangatup rapat menandakan tekad yang kuat.

1 komentar:

Dewi naoli mengatakan...

Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)