Senin, 07 Juli 2008

Permaluan Umum bagi Simpatisan Lapindo


Tadi pagi saya menerima salah satu posting dari salah satu milis yang saya langgani. Isinya sebuah artikel yang dimuat harian Media Indonesia yang isinya membuat saya, lagi-lagi, harus mengurut dada karena prihatin sekaligus geram. Artikel tersebut diberi judul “Kembalinya Sebuah Kehidupan di Sidoarjo”. Penulisnya bernama Nico Wattimena, seorang Dosen Pasca Sarjana Stikom, London School of Public Relations. Sayapun mBatin, persediaan lonte intelektual dalam masalah Lapindo ini memang tidak ada habisnya.
Yang ditulis oleh sang pakar, menurut saya, tidak lebih adalah bentuk advertorial Lapindo dalam versi yang lain. Kalau sebelumnya, Grup Bakrie masih cukup jantan untuk memberi label iklan mereka yang dipampang di media, kini tidak lagi. ‘Iklan’ itu muncul dalam bentuk artikel, di sebuah kolom opini di media nasional, dan ditulis oleh seorang dosen pascasarjana.
Isinya benar-benar senafas dengan berbagai macam advertorial Lapindo yang sudah muncul terlebih dahulu. Logika berpikir yang selalu coba dibangun adalah Lapindo yang tidak bersalah dalam kasus semburan Lumpur Sidoarjo, namun tetap punya kepedulian tinggi, sehingga terus mengupayakan yang terbaik bagi korban Lumpur. Maka solusi terakhir yang ditawarkan oleh Lapindo benar-benar jalan keluar terbaik bagi korban Lumpur.

Sedangkan pola-pola penulisan yang muncul juga tetap konsisten, yaitu antara lain :
- Penyebutan Lumpur Sidoarjo, alih-alih Lumpur Lapindo
- Semburan Lumpur akibat gempa
- Pengadilan sudah membuktikan lapindo tidak bersalah
- Meski begitu Lapindo tetap bertanggungjawab dengan memberi ganti rugi
- Solusi apapun yang ditawarkan adalah semata-mata demi kepentingan korban
- Dan sebagainya (silahkan ahli media melakukan analisa terhadap ’iklan-iklan’ Lapindo, baik yang terbuka maupun terselubung seperti artikel ini. Saya punya dokumentasinya kalau ada yang bisa membantu)

Saya tidak kenal dan sama sekali tidak tahu apa latar belakang Nico Wattimena ini. Tetapi apa yang dilakukannya benar-benar menginjak-injak rasa keadilan dan mengeksploitasi penderitaan Korban Lapindo. Apakah seorang Dosen Pasca Sarjana, dari sebuah kampus ternama, tidak bisa cari makan yang lain selain makan dari bangkai kehidupan rakyat Sidoarjo yang sudah hancur luluh oleh lumpur. Apa tidak ada lagi cara lain yang lebih bermartabat untuk mengais rejeki. Entah apalagi yang bisa dikata kepada orang semacam ini.
Atau lebih tepatnya, orang-orang semacam ini. Sebab, banyak sekali orang/tokoh yang tampaknya menangguk kotornya uang lumpur. Sekumpulan ahli geologi yang dengan mengalahkan logika keilmuan dan komunitas mereka sendiri menjadi ’staf ahli’ Lapindo. Sekumpulan ilmuwan di Unair yang menjadi penggawang media corong Lapindo. Media yang memuat advertorial terselubung (acara ’dialog khusus’ di TV yang iklan juga), dan yang sudah ter’sensor’ oleh modal sedemikian rupa. ’Kyai’ yang menyumpah korban demi memberi harapan palsu, dan sekarang meninggalkan ribuan korban yang dulu sangat tergantung kepada dia. Para panelis dalam debat terbuka cagub Jatim, yang mestinya sangat paham bahwa lumpur Lapindo adalah masalah terbesar Jatim dalam 5 tahun ke depan, namun entah kenapa seolah-olah lupa menanyakan kepada para cagub tentang hal itu. Dan kiranya masih banyak lagi.
Saya sampai pada kesimpulan ini, karena tidak ada lagi logika manusiawi yang bisa menjelaskan motivasi apa yang mereka lakukan. Selain bahwa karena memang mereka termasuk orang yang tidak akan malu mengaca di pagi hari demi melihat tampangnya adalah muka yang menginjak2 Korban Lapindo. Atau tidak akan merasa jengah demi memberi makan anak istrinya uang yang didapat dari menjual penderitaan dan kesengsaraan korban lumpur Lapindo. Oh rindunya saya dengan Romo Frans Magnis Suseno, demi mengingat hal itu. Atau juga dengan para pendiri republik ini, yang pasti akan memperjuangkan nasib rakyatnya, sepenuh hati.
Dalam situasi dimana hukum dan negara tidak mampu mengadili hal-hal seperti ini, maka revolusi seringkali menjadi dambaan. Namun sebelum itu dilakukan, saya ingat salah satu isi dari pembaca menulis di salah satu media yang saya baca. Kita permalukan saja mereka di depan publik. Pemaluan publik (public humiliating) ini banyak bentuknya, tapi saya coba memulai dengan salah satu yang paling mudah dan murah saja, yaitu menulis apa yang mereka lakukan, dan menyebarkan kepada publik. Ada yang ikut menambahkan?

9 komentar:

Anonim mengatakan...

Penulisan blog yang saya hormati. Komentar saya sangat singkat yakni apa yang saya tulis ini berdasarkan sebuah penelitian di tempat dan dukung oleh fakta-fakta. Dan dari sisi ilmu komunikasi sebuah penulisan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah bila memenuhi persyaratan tersebut diatas. Jadi saya bukan intelektual Lonte seperti yang anda tuduhkan.
Wassalam,
Nico Wattimena
nico_wattimena@yahoo.com

wandi mengatakan...

dear nico, Anda tidak menyebutkan sumber penelitian dan faktanya. Bahkan saya yakin, Anda tidak pernah verifikasi apa yang Anda sebut fakta di lapangan.

dina savaluna mengatakan...

itu sih cuma copy-paste dari iklan lapindo...
ga bs disebut juga tulisan intelektual...

kalo authornya memang intelektualis dan menggadaikan intelektualitasnya untuk pihak2 dan membuat satu orgasme opini bagi pemesan (pelanggan), baru bs disebut pelacur intelektual...
baca buku Julian Benda deh...
tentang pelacur2 intelektual....

best regard
dina savaluna

dina savaluna mengatakan...

Bung nico wattimena...
terlihat tidak konsistennya anda di masalah identitas...
anonim kok pake nama... pake email pula...
kenapa ga pake openID ? masa intelektualis ga ngerti cara posting comment yang bener sih...
gimana risetnya?
hihihi...
so politically incorrect ya..

Anonim mengatakan...

inikah seorang dosen komunikasi pasca sarjana??
bila tulisan anda memang bisa dipertanggung jawabkan, buktikan!sebutkan penelitian dan fakta-fakta di lapangan yang mendukung tulisan anda.
saya yakin bila anda mempunyai data, data-data yang anda dapatkan tersebut merupakan data dari pihak lapindo. Dan saya yakin anda tidak meneliti apapun mengenai lumpur lapindo itu sendiri.
walaupun anda seorang pakar komunikasi, apakah anda akan mengerti tentang teknis/non-teknis mengenai Lumpur lapindo?

Anonim mengatakan...

kok tulisan pak nico cuma dikomentarin 4 orang??gak seru nih...

ayo pak, bikin yang lebih seru!!

Anonim mengatakan...

ikut komentar deh...
Aku jadi bingung sebagai orang yang baca artikel dan komentar. Satu sisi lihat masyarakat korban lumpur yo kasihan juga.
Tapi seingatku kalau mau ganti rugi kan memang harus dibuktikan di pengadilan kalau dia bersalah, baru ganti rugi.

Kalau seperti ini, Bakrie Group langsung disuruh bayar tanpa ada persidangan bagaimana ya dudukan hukumnya? Kenapa kalau kebakaran hutan yang juga jelas di ladang siapa dan merugikan rakyat tidak dihukum mengembalikan keadaan hutan dan kerugian masyarakat?

Terus kok pemerintah tutup mata ya? Kalau aku sih merasa solusinya selamatkan rakyat dulu. Itu nomor 1. Bagaimana caranya rakyat dapat uang pengganti tanah dan penghidupan yang layak. Harusnya pemerintah mengusahakan dana dan meminta Bakrie Group serahkan saham atau berkomitmen membayar ke pemerintah.
2. Kalau berharap Bakrie bayar semua dengan dudukan hukum yang tidak jelas ya jelas repot.
Atau bisa juga dengan jalan kekerasan (not recommend deh)
yaitu pemerintah memaksa Bakrie group membayar segera dengan desakan jika tidak beres akan menutup seluruh lini bisnisnya di Indonesia. Tapi itu jadi kekerasan negara ya. Waduh gak ngerti deh.

Ada yang lebih konkrit solusinya? Aku ngerti, pasti sudah banyak yang emosi juga ya terutama warga yang kehilangan properti dan penghidupan. Andai aku kaya raya ya, minimal bisa buka lapangan kerja buat 10-20 orang di sana, pasti aku lakukan segera.

Salam...

(orang bodo melu nulis)

ema mengatakan...

dear mas/mbak..
saya berniat menulis satu kajian yg membahas advertorial lapindo. kira2, bisakah anda mengirimkan data2 yg anda punya mengenai itu? tengkyu banyak sebelumnya..

Anonim mengatakan...

hai mas! Saya suka sekali tulisan mas, terlihat jelas memang kalau LSPR itu isinya lonte lonte pencitraan dan ternyata dosennya sejenis. Katanya sih, social media handling itu lebih efektif daripada iklan--maka dia membuat pencitraan supaya terlihat manis.

Sekali lonte intelektual yang gemar pencitraan selamanya ya begitu. Pikir berkali kali sebelum masukin anak ke sana, bisanya pencitraan tapi logika 0 besar.