Rabu, 29 Oktober 2008

Jurus-jurus Maut Pengkibulan Lapindo

Bahwa Lapindo dimiliki oleh Kelompok Usaha Bakrie, semua orang sudah mahfum adanya. Juga bahwa Bakrie memiliki sumberdaya politik dan ekonomi, serta tentu saja pengaruh, yang luar biasa besar di negeri ini, mungkin banyak orang juga sudah menduga. Tetapi, tahukah anda bahwa kebisaan Bakrie itu juga hendak diarahkan untuk ‘membeli’ media dan membentuk opini publik tentang masalah Lapindo?

Mungkin tidak banyak yang menyadari, meskipun korban sudah merasakan itu sudah berkali-kali dilakukan. Tapi mudah-mudahan tulisan ini membantu anda untuk siap dan awas akan propaganda apapun yang dilakukan Lapindo agar mereka lepas dari tanggungjawab dalam Bencana semburan Lumpur panas di Sidoarjo

***

Beberapa hari ini, saya menduga bahwa kantor humas Lapindo, dimanapun itu berada, selalu dalam sitauasi siaga satu. Ya, ada beberapa peristiwa yang akan menentukan bagaimana opini publik akan berpihak dalam hal Bencana Lumpur Lapindo (juga karena banyak dari mereka yang akan dipecat kalau kampaney media tingkat global ini gagal).

Hal ini karena adanya dua event ilmiah di bidang ilmu kebumian (geosciences) berskala internasional yang diselenggarakan di London, Inggris dan Cape Town, Afrika Selatan, dalam waktu yang beriringan. Kedua konferensi ini akan memberikan alasan pembenar, apakah Lapindo yang menyebabkan semburan Lumpur Panas di Sidoarjo pada tanggal 29 Mei 2006, ataukah gempa bumi Yogya, yang terjadi dua hari sebelumnya.

Maka, jauh-jauh hari mereka sudah menyiapkan beberapa jurus yang kiranya akan menyumpal suara korban, aktivis dan para pakar yang masih keukuh dengan harga diri intelektualnya untuk tidak terbeli oleh Lapindo, bahwa semburan Lumpur bukan kesalahan mereka, untuk selamanya.

Dimulai dengan munculnya posting komentar di beberapa blog (misalnya disini) yang mencoba menanamkan keraguan akan motif dari para ahli yang berpendapat bahwa semburan Lumpur dipicu oleh kesalahan Lapindo. Juga keyakinan si penulis komentar, yang tidak jelas identitasnya, bahwa dia sudah menyelesaikan studi selama 18 bulan, yang menyimpulkan bahwa Lapindo tidak bersalah dalam semburan Lumpur.

Beberapa hari kemudian, muncul sebuah website, yang berisi informasi tentang masalah Lumpur Lapindo (tentu saja dengan nama Lusi), yang memiliki banyak kesamaan dengan komentar yang disebut diatas. Anehnya, meskipun website ini digarap cukup bagus, tetapi pengunjung tentu saja akan tergiring bahwa semua pendapat yang dikutip adalah yang menguntungkan Lapindo. Lebih aneh lagi, tidak ada identitas lembaga yang jelas, mengherankan untuk sebuah website yang dikerjakan dengan cukup professional.

Lalu kemudian datanglah saat pelaksanaan konferensi di London (22/10). Bak strategi AS pasca 9/11, Lapindo melakukan pre-emptive strike dengan mengeluarkan sebuah kampanye media berskala global. Tidak tanggung-tanggung, sebuah perusahaan Public Relation (PR) berskala dunia yang disewa untuk mengabarkan konferensi ini, dengan penekanan pada Lapindo memiliki bukti baru bahwa mereka tidak bersalah. Aksi PR ini, kontan langsung disambut oleh berbagai media, dalam dan luar negeri, terutama oleh media resmi negeri ini.

Pada saat tengah konferensi, Lapindo lagi-lagi merilis kabar bahwa konferensi menyimpulkan bahwa mereka tidak bersalah, yang lagi-lagi hanya dimuat oleh media resmi negeri ini. Padahal, tidak ada kesimpulan semacam itu. Satu-satunya yang bisa disimpulkan dari konferensi di London adalah bahwa data yang tersedia masih belum untuk diambil kesimpulan, sehingga perlu pertemuan selanjutnya.

Kabar tersebut langsung dibantah oleh salah seorang ahli yang menjadi peserta, sekaligus pelopor utama pendapat Lapindo sebagai penyebab semburan, Dr. Richard Davies. Sejumlah LSM yang Peduli dengan masalah Lapindo, juga langsung mengecam upaya mengelabui publik ini.

Tidak berhenti disini, Lapindo terus berupaya mengelabui publik melalui konferensi lanjutan di Cape Town, seminggu kemudian (28/10). Lapindo kembali mengabarkan melalui rilis bahwa para ahli berpendapat bahwa mereka tidak bersalah. Lebih tegas daripada konferensi London, Lapindo menyebut bahwa para ahli menyimpulkan bahwa penyebab semburan adalah Gempa!

Tentu saja sebuah kesimpulan yang sangat menggelikan (atau menyedihkan). Sebab, tidak saja konferensi tersebut tidak menyimpulkan bahwa pemicu semburan adalah gempa, tetapi bahkan sebagian besar ahli yang datang menganggap bahwa pengeboran Lapindo-lah pemicunya. Hanya dua orang pegawai Lapindo yang dikirim untuk datang ke konferensi dan satu ahli, yang tetap bersikukuh bahwa mereka tidak bersalah.

Entahlah, apa mau dibilang terhadap Lapindo dan Kelompok Usaha Bakrie pada umumnya. Mungkin mereka sudah merasa sedemikian nyaman dengan kemampuan mereka memanipulasi kebenaran seperti yang selama ini mereka praktekkan. Perlindungan yang terus menerus dari pemerintah, dan keacuhan publik, bisa jadi membuat mereka merasa semakin diatas angin, sehingga bahkan konferensi ilmiah kelas dunia pun mereka coba untuk manipulasi.

Saya cuman bisa berharap bahwa media massa kita tidak begitu bodoh dan naifnya untuk termakan kampanye penyesatan publik yang terus dilakukan oleh Lapindo. Juga moga2 masih banyak warga bangsa ini yang berakal sehat dan bernurani bersih, sehingga tetap bisa mengenali upaya-upaya busuk yang terus dilakukan oleh Lapindo, dalam menghindarkan diri dari tanggungjawabnya terhadap para korban Lapindo, dan bangsa ini.

6 komentar:

darmawan mengatakan...

turut berduka sedulur2...

ya Allah..
pengen misuh tapi gak pantes dijejerne asma sing murbeng dumadi.

remaja muda mengatakan...

beautiful.
blog spongebob http://oke-sexoke.blogspot.com/

remaja muda mengatakan...

beautiful.
blog spongebob http://oke-sexoke.blogspot.com/

iklanglobalmart mengatakan...

Brooo... tabah brooo.....jengkel n brengsek... itu .. orang.... Tenaga Ahlinya nya pun biang Gagal..... saat bumi resources di arab bikin galian 300km2 gak keluar minyakk...di Arab mending banyakan pasirnya..... kali ini jadi percobaan pula.. gali di porong.. ... mau nya berapa kilometer lagi... yang gagal............ kemana MATA HATI sang PEMIMPIN....kemana JIWA MATI terasing..... coba kalau rumah mereka di kasih lumpur satu pickup aja... tentu kita sudah di penjara..... di tuntut..... di denda jutaan... milyaran........ ribuan rumah kecil di banjiri lumpur... Pengadilan TUTUP MATA....PEMERINTAH TUTUP TELINGA..... sory.. bro...mau dukung tapi belum nemu .. jalan... .. kemana cari pengadilannya kemana melapornya.... biruxp

Yogha Putra Giniung Pratidina mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Yogha Putra Giniung Pratidina mengatakan...

Assalammualaikum
Kalo boleh saya meminta data jumlah korban luapan lumpur (dari berapa desa)
serta jumlah korban yang sudah mendapatkan rugi dan yang belum mendapat sampai sekarang.
Karena saya tertarik untuk meneliti kebermanaan hidup dan kesejahteraan hidup masyarakat korban. sebab dimasyarakat awam kasus lapindo dianggap selesai.